Minggu, 17 Mei 2020

Mei 17, 2020
Bandung, - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mendorong agar warga memanfaatkan lahan rumahnya agar lebih produktif. Salah satunya dengan memanfaatkannya lewat urban farming terintegrasi.

Pasalnya, urban farming bisa membantu warga dalam soal ketahanan dan kemandirian pangan. Terlebih di saat pandemi Covod-19 seperti sekaran ini. Urban farming terintegrasi tak hanya soal menanam sayuran, buah-buahan, memelihara ternak atau ikan, tetapi juga pengelolaan limbahnya.

"Terkait kondisi yang terjadi saat ini, segalanya mulai erbatas. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) juga mempengaruhi pasokan sayur, beras, daging. Mari kita ambil hikmah dengan cara meningkatkan kemandirian pangan kita," ungkap Wali Kota Bandung, Oded M. Danial.

Oded mengatakan itu saat meresmikan Buruan SAE (Sehat, Alami, dan Ekonomis) dengan urban farming rerintegrasi di Jalan Kopo, Kelurahan Margahayu Utara, Kecamatan Babakan Baparay, Kota Bandung, Jumat (15/05/2020).

Lewat program Buruan SAE atau pekarangan bagus milik keluarga, warga bisa menanami lahan di halaman rumahnya dengan sayuran atau buah-buahan. Termasuk memelihara hewan ternak, serta pemanfaatan hasil limbah dan menjadi produk akhir.

Menurut Oded, konsep urban farming yang terintegrasi bisa menjadi jawaban untuk menghadirkan ketahanan atau kemandirian pangan warga Kota Bandung. Jika setiap warga melakukan hal serupa secara masif dikelola oleh RW maka kemandirian pangan bisa terwujud.

"Misalnya gang pertama jadi gang cengek, kedua gang surawung, terong, dan yang lainnya. Saya yakin itu bisa menghadirkam sebuah ketahanan atau kemandirian pangan di wilayah tersebut," katanya.

Ia berharap Buruan SAE bisa menjadi percontohan kluster edukasi wisata bagi pelajar atau orang dewasa yang belum memiliki pekerjaan untuk belajar malakukan urban farming di lokasi tersebut.

"Saya harap camat mendukung hal tersebut. Mari kita edukasi masyarakat. Walau berada di perkotaan kita bisa bertani," ucap Oded.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengaku terus mengembangkan urban farming.

"Urban farming harus bisa memenuhi kebtuhan keluarga atau rumah tangga, dengan inovasi saat ini membangun yang terintegrasi," katanya.

Menurutnya, Buruan SAE bisa menjadi strategi ketahanan pangan di Kota Bandung. Untuk mencontohkan hal tersebut ke masyarakat ia pun mempraktekannya sendiri di pekarangan milik keluarga.

"Rencananya dalam dua bulan ini kita juga akan meresmikan Urban Farming terintegrasi di daerah lain seperti Cigiringsing," katanya.

Gin Gin mengakui, saat ini baru terfokus ke tanaman sayuran. Namun belum memenuhi sisi kebutuhan protein seperti dengan ternak ayam atau ikan.

"Tapi yang lebih penting, masyarakat membutuhkan bibit dan benih dengan kondisi saat ini yang agak sulit. Kita akan ajarkan kemampuan atau kemandirian untuk melakukan pembibitan atau pembenihan sendiri," katanya.

Selain itu, urban farming terintegrasi dengan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan menjadikannya kompos atau pakan bagi ternak.

"Di sini kita coba walau skala kecil. Termasuk menjadikan produk seperti minuman jeruk, jahe, manisan tomat, dan produk dari bayam atau ubi. Jadi tidak hanya menyediakan sayur, itu termasuk pemanfaatan dari sisi ekonomis," ucap Gin Gin.

"Dengan hal ini, Kota Bandung yang memiliki sedikit lahan, ke depannya mempunyai kemandirian untuk memenuhi ketahanan pangannya di satu kawasan tiap wilayah. Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau keluarga, sehingga terbangun ketahanan pangan untuk seluruh Kota Bandung," harapnya.

0 komentar: