Rabu, 25 Mei 2016

Mei 25, 2016
Purwakarta, BL - Pemberitaan media massa yang menyebutkan bahwa terjadi tindakan kasar yang dilakukan oleh unsur pendidik terhadap peserta didik ternyata mendapat perhatian khusus dari Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.


Dedi mengaku memiliki solusi atas persoalan yang dianggap mengganggu stabilitas dunia pendidikan Indonesia ini. Solusi yang ditawarkan oleh Bupati yang dikenal sering menulis lagu bertema spiritual ini adalah dengan cara mengadopsi sistem pendidikan pesantren. Dedi menilai pesantren telah sukses menanamkan budi pekerti kepada peserta didiknya (santri.Red) dengan cara menerapkan metode aplikatif pembelajaran karakter bukan sekedar transformasi Ilmu Pengetahuan.


"Seringkali kan kita menyalahkan peserta didik yang tidak bisa diatur. Problemnya berarti mentalitas dan karakter. Maka pola pendidikan yang diterapkan harus berbasis karakter budi pekerti bukan lagi melulu transformasi ilmu. Zaman dahulu kalau keras kepada anak didik tidak akan menjadi masalah. Lah hari ini urusannya bisa penjara". Kata Dedi, Rabu (25/05).


Saat karakter menjadi acuan pembelajaran menurut Dedi maka seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah di Kabupaten Purwakarta harus mengacu kepada variabel budi pekerti.


Menurut dia peserta didik yang memiliki budi pekerti yang buruk sudah seharusnya tidak naik kelas. Hukuman tidak naik kelas ini pun harus dilakukan secara sistematis. "Misalnya saja setiap mata pelajaran nilai peserta didik dikurangi 2. Taruhlah dia dapat nilai Matematika 7. Nah, karena budi pekertinya jelek maka di Raport harus ditulis 5". Ujar Dedi.


Dedi menekankan pola penilaian baru ini harus dilaksanakan secara konsisten di seluruh sekolah di Kabupaten Purwakarta. Tidak dibenarkan suatu saat ada protes dari orang tua siswa yang tidak terima nilai anaknya dikurangi.


"Kalau masuk pesantren kan biasanya ditanya dulu kesanggupan mengikuti peraturan atau tidak. Maka saat masuk sekolah di Purwakarta semua pihak harus ditanya kesanggupan menerima pola baru ini". Kata Dedi menutup paparannya.

0 komentar: